Motol Kampanye

Zappa (4 tahun), anak salah seorang kawan saya, takut dengan apa yang disebutnya dengan lidah pelo sebagai “Motol Kampanye”. Tiap kali mendengar suara knalpot yang pengang, ia bersembunyi di balik kaki bapaknya.

Bila di antar-jemput ayahnya ke sekolah, Zappa meminta agar telinganya disumpal saja dengan kapas. Ia takut dan terganggu –besar kemungkinan trauma– dengan suara bising “motor kampanye”.

Alkisah, Zappa dan kawan-kawannya baru saja bubaran playgroup. Seperti biasa para orang tua menjemput anak-anak mereka di halaman sekolah. Di saat yang sama, rombongan kampanye salah satu parpol melintas di depan sekolah, lengkap dengan kebisingan knalpot.

Meski minus Israfil, suara knalpot bising itu mendadak menjadi terompet sangkakala. Seperti kiamat kecil, terjadi histeria massal. Zappa dan teman-temannya berlarian mencari orang tua mereka. Ada yang berteriak histeris, beberapa yang lain mulai menangis.

Advertisements

Kuli bita

Tak banyak yang mengerutkan dahi saat mendengar istilah ‘kuli tinta’. Merujuk pada jurnalis; wartawan; atau mereka yang menggantungkan nafkah pada aktivitas menulis karangan (buku, artikel, dan serupanya). Dulu tinta memang eksis, ketika semua produksi tulisan sangat bergantung padanya. ‘Kuli tinta’ pun jadi relevan, istilah itu mengakomodir semangat zamannya.

Hari ini, orang kian sering memproduksi konten di internet. Hingga beberapa tahun lalu, secarik kertas memang masih menjadi hulu informasi. Tapi lihatlah sekarang, kita menikmati informasi dari piksel yang berbaris rapat-rapat di layar ponsel atau komputer. Dulu pesan dan informasi dititipkan pada tinta, yang kini perannya diambil oleh satuan data.

Dalam konteks sederhana itu, saya ingat kata ‘bita’ (inggris: byte) merujuk pada satuan penyimpanan di dalam komputer. ‘Kuli Bita’ mungkin bisa diajukan sebagai diksi alternatif untuk ‘kuli tinta’. Ia menyerap semangat zaman, terkhusus untuk penulis di era media baru (begitu kita mengartikan ‘new media’?), yang menyimpan informasinya dalam satuan-satuan data.

Sebutlah jurnalis sebuah situs berita, ia menyimpan (baca: unggah) semua tulisan berisi informasi dalam bentuk data. Data itulah yang kemudian dibuka (baca: unduh) oleh mereka yang ingin mengakses informasi, lewat sambungan internet berbekal perambaan. ‘Bita’ serupa ‘tinta’ pada zamannya. Keduanya adalah medium bagi manusia untuk menyebar atau bertukar informasi. Laman-laman yang kita kunjungi, diisi oleh satuan-satuan data. Seperti kertas-kertas surat kabar yang dipenuhi tinta.

‘Kuli bita’ atau ‘kuli tinta’. Akh, agaknya tak perlu menggunakan ‘kuli’, sebab mereka yang mencari nafkah dari menulis kini lebih suka digolongkan sebagai profesional, olehnya tak pantas disebut ‘buruh’ –atau lebih-lebih ‘kuli’. Tak usahlah ‘kuli bita’, bahkan ‘kuli tinta’ saja sudah jarang kita dengar.