“Leste”

image

Alkisah, republik yang kau cintai ini, pernah punya jajahan, kita kenal namanya Timor-Timur. Hafalan anak sekolah dasar menyebutnya sebagai “provinsi termuda di Indonesia” –sebagaimana diajarkan oleh kurikulum militer orde baru. Setelah merdeka namanya menjadi Timor Leste.

Foto diambil di ruang tamu, salah satu organisasi non pemerintah di Jogja. Agak janggal saja, meski sudah merdeka, penempatannya demikian. Kenapa tidak sejajar? Mungkin karena bentuk dan medium lambang yang tak sama, maka lebih proporsional di buat begitu. Atau jangan-jangan, memang kebanyakan dari kita tidak pernah lepas dari imaji nasionalisme.

Semoga bukan cinta atas nama nasionalisme itu juga yang membenarkan kekerasan militer di Papua, hari ini. Nasionalisme macam apa yang membenarkan orang bisa membunuh? Menjajah bangsa lain? Melakukan penindasan manusia atas manusia?

Advertisements

“Penak Jamanku To?”

SONY DSC

Seorang kawan membeli gambar tempel ini seharga lima ribu rupiah dari pedagang asongan di perempatan RingRoad-Condong Catur, Yogya. Gambar lebih besar (seukuran A4) dijajakan senilai Rp15.000, tentu bisa ditawar. Tak sulit mendapatkannya, banyak yang menjajajakannya di  perempatan-perempatan utama Yogya.

Mulanya senyum Jenderal Harto ini hanya ada di beberapa truk, belakangan menyebar cepat. Pesannya sederhana, menertawakan kondisi Indonesia kekinian, sembari menyelip kabar kerinduan terhadap Soeharto dan Orde Baru. Inisiatif warga kah? Atau upaya sistematis dari kelompok-kelompok pro Orba? Saya lebih percaya yang terakhir.

Mungkin ada yang mau buat gambar tempel ini. Kalo korsa diganti KORSLET (minjam istilah kawan) sepertinya ok:

harto copy

Roti untuk Rakyat

????????

Roti ini bisa ditemukan di rak-rak mini-market terdekat. Tiga hari terakhir, saya memilihnya sebagai teman ngopi. Kejunya cukup terasa –saya belum mencoba yang coklat. Tapi tak usah berharap untuk kenyang, roti ini lebih banyak menyediakan ruang kosong berisi angin. Setimpal dengan harganya, Rp1.500, termurah di jajaran roti sederajat yang menembus monopoli mini-market.

Perihal roti, di Rusia (1917), revolusi pun dipicu oleh makanan berbahan dasar tepung terigu dan air ini. Bolshevik sukses memainkan peran. Panen gandum yang gagal, bawa roti jadi barang langka, rakyat kesulitan. Lenin, tokoh komunis tersohor, merumuskannya dalam tuntutan “Peace, Bread, Land.” Bergemalah teriakan “Roti untuk Rakyat.”

Balada Wakil Presiden

SONY DSC

Muhammad Jusuf Kalla, pengusaha cum politisi, Wakil Presiden Indonesia ke-10 (2004-2009). Selama masa itu, potretnya –bersama lambang Garuda dan foto Presiden– dipajang di banyak tempat, mulai dari ruang kelas hingga kantor-kantor pemerintah. Lebih dari tiga tahun sejak masa jabatannya berakhir (20 Oktober 2009), sebuah ruang kelas SD di Prambanan, Sleman masih memajang potretnya, Rabu (20/2/2013). Boleh jadi para siswa mengira Jusuf masih menjabat Wakil Presiden, yang saat ini dipegang oleh Boediono, seorang penyandang gelar Ph.D di bidang ekonomi. Seorang pelaku seni jalanan di Jogja pernah menyindir posisi Boediono lewat karyanya bertajuk “Antara Ada dan Tiada.”

Pak SBY – Yuk Goyang Bareng Sama Aku

Img_5512

“Pak SBY. Yuk Goyang Bareng Sama Aku” (Nabila). Foto di atas diambil di kawasan Tugu Yogyakarta pada saat acara ‘Card to Post Main Ke Yogya’ sebagai bagian dari program ‘Kartu Pos untuk Presiden”. Waria ini memilih mengajak Presiden Yudhoyono Goyang (baca:joget atau menari) bersama. Boleh jadi Nabila melihat terlalu banyak hal berat dan serius di sekeliling Pak BeYe. Bergoyang adalah ajakan bersantai, mungkin kita perlu belajar dari pesan Nabila, belajar bersantai di tengah hal-hal serius. Mari bergoyang!

Marry The State

Nikahilah negara-mu, Marry the State.  Bagi saya ini sebuah mocking. Mungkin kalo ‘negara’ baik-baik saja saya gak bakal bikin kartu pos ini.

  1. Lurusin Burungnya! Semoga negaramu sedang baik-baik saja. Saya berharap negara ini bisa segera kembali ke jalan yang lurus (baca: benar)! hihihi
  2. Jaga Burungnya! Keadaan darurat, buat kalian penikmat ‘sakit’ bersama nasionalisme, silahkan lurusin. Ben Anderson, bilang ini sebagai imagine community. Silahkan kalo masih mau berimaji tentangnya. Saya sudah menguburnya.

Ada Apa Dengan Punk?

Pembinaan-punker-4

Seperti halnya Cinta yang dipertanyakan dengan nada diplomatis dalam judul film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ –saya ingin bertanya ‘Ada Apa Dengan Punk?’. Pertanyaan diplomatis ini mesti ditanyakan ke khalayak yang ramai berkoar soal Punk. Akhir-akhir ini Punk menjadi salah satu topik pembicaraan utama. Di jagat media sosial, Punk mendadak penting. Selanjutnya banyak politisi dan aktivis akhirnya mendadak Punk, agar terlihat penting. Continue reading

Experiment Room Mixtape Vol. II – Start The Riot From Your Bed

Tumblr_lo8ct1uw9p1qkeifz

Tempat tidur menjadi tempat hari-hari kita di mulai. Mungkin kamu tertidur lelap di tempat tidur yang nyaman setiap malam. Pagi hari, kau terbangun karena matahari merusak mimpi-mimpi indahmu. Sinar dan panasnya menyusup masuk melalui jendela dan lubang udara, semoga kamu menangkap pesan yang sama -matahari mengabarkan dunia yang sedang tidak baik-baik saja di luar sana. Dia ingin mimpi berhenti, dia ingin menganggu tidurmu. Continue reading

Berbeda dan Merdeka 100 % – Stencil

Berbeda dan Merdeka 100 Persen

Rice Against Teror. Terlalu banyak teror di nusantara – padahal kita lebih butuh nasi daripada teror basi. Dua stencil :

1) Daripada “Bom Bunuh Diri” – lebih baik “Nasi Ambil Sendiri”

2) Bom = Perang – Nasi = Kenyang

Minggu, 17 April 2011 – @Fikrie