“Leste”

image

Alkisah, republik yang kau cintai ini, pernah punya jajahan, kita kenal namanya Timor-Timur. Hafalan anak sekolah dasar menyebutnya sebagai “provinsi termuda di Indonesia” –sebagaimana diajarkan oleh kurikulum militer orde baru. Setelah merdeka namanya menjadi Timor Leste.

Foto diambil di ruang tamu, salah satu organisasi non pemerintah di Jogja. Agak janggal saja, meski sudah merdeka, penempatannya demikian. Kenapa tidak sejajar? Mungkin karena bentuk dan medium lambang yang tak sama, maka lebih proporsional di buat begitu. Atau jangan-jangan, memang kebanyakan dari kita tidak pernah lepas dari imaji nasionalisme.

Semoga bukan cinta atas nama nasionalisme itu juga yang membenarkan kekerasan militer di Papua, hari ini. Nasionalisme macam apa yang membenarkan orang bisa membunuh? Menjajah bangsa lain? Melakukan penindasan manusia atas manusia?

Balada Wakil Presiden

SONY DSC

Muhammad Jusuf Kalla, pengusaha cum politisi, Wakil Presiden Indonesia ke-10 (2004-2009). Selama masa itu, potretnya –bersama lambang Garuda dan foto Presiden– dipajang di banyak tempat, mulai dari ruang kelas hingga kantor-kantor pemerintah. Lebih dari tiga tahun sejak masa jabatannya berakhir (20 Oktober 2009), sebuah ruang kelas SD di Prambanan, Sleman masih memajang potretnya, Rabu (20/2/2013). Boleh jadi para siswa mengira Jusuf masih menjabat Wakil Presiden, yang saat ini dipegang oleh Boediono, seorang penyandang gelar Ph.D di bidang ekonomi. Seorang pelaku seni jalanan di Jogja pernah menyindir posisi Boediono lewat karyanya bertajuk “Antara Ada dan Tiada.”

Hunian Masa Depan

Kuburrrrrr

Murah dan berkualitas, sebuah promo yang baik? Lokasi kuburan terletak tepat di pinggir Jalan Affandi (dulu Gejayan), salah satu jalan utama di Kota Sleman, DIY. Berdekatan dengan dua kampus negeri serta beberapa kampus swasta membuatnya sangat strategis, tumbuh menjadi pusat ekonomi. Tentu Anda bisa membayangkan harga investasi jika memiliki properti di kawasan tersebut.

Bayangkan promonya:

“KAVLING SIAP GALI! PESONA LELAYU PERMAI – HUNIAN MASA DEPAN DI YOGYAKARTA. MURAH DAN BERKUALITAS. LOKASI STRATEGIS, PUSAT KOTA, DEKAT KAMPUS!”

PTS 1981

Up

Vespa ini milik salah seorang kawan, jenis PTS tahun 1981, dengan mesin berkapasitas 100 cc. Beberapa tahun silam, kami mengerjakan sebuah proyek bareng. Keuntungan dari proyek yang tak seberapa itu, digunakannya untuk berburu motor dan memulung spare part. Sekarang, skuter yang konon bentuknya mirip tawon itu berumur 31 tahun, sementara kawan saya baru menginjak usia 23 tahun. Mengakrabi kelampauan, tak harus melawannya, hingga tak perlu hancur.

Melawan Waktu?

Dsc06770_copy

Lampau, Kini dan Nanti. Massa, Waktu, Tempo. Kita sedang bertarung dengannya? Apa kita pernah menang melawannya? Tak  ada yang benar-benar menang. Tak ada yang benar-benar kalah. Kita pernah kehilangan sedikit, seperti juga kita pernah mencuri darinya. Dia mengambil sedikit dan memberi sedikit. Sekali lagi kita tak kalah, waktu tak menang, tak juga remis. Karena tak ada yang sedang bertarung.

Pak SBY – Yuk Goyang Bareng Sama Aku

Img_5512

“Pak SBY. Yuk Goyang Bareng Sama Aku” (Nabila). Foto di atas diambil di kawasan Tugu Yogyakarta pada saat acara ‘Card to Post Main Ke Yogya’ sebagai bagian dari program ‘Kartu Pos untuk Presiden”. Waria ini memilih mengajak Presiden Yudhoyono Goyang (baca:joget atau menari) bersama. Boleh jadi Nabila melihat terlalu banyak hal berat dan serius di sekeliling Pak BeYe. Bergoyang adalah ajakan bersantai, mungkin kita perlu belajar dari pesan Nabila, belajar bersantai di tengah hal-hal serius. Mari bergoyang!

Marry The State

Nikahilah negara-mu, Marry the State.  Bagi saya ini sebuah mocking. Mungkin kalo ‘negara’ baik-baik saja saya gak bakal bikin kartu pos ini.

  1. Lurusin Burungnya! Semoga negaramu sedang baik-baik saja. Saya berharap negara ini bisa segera kembali ke jalan yang lurus (baca: benar)! hihihi
  2. Jaga Burungnya! Keadaan darurat, buat kalian penikmat ‘sakit’ bersama nasionalisme, silahkan lurusin. Ben Anderson, bilang ini sebagai imagine community. Silahkan kalo masih mau berimaji tentangnya. Saya sudah menguburnya.

Lost in Jakarta

Lost in Jakarta (postcard – transportation series)

Jakarta, enam bulan silam saya tak pernah berpikir akan tinggal di kota ini. Hidup kadang berakselerasi terlalu cepat, keputusan besar diambil dalam waktu singkat—penting dan genting bergandengan meminta diselesaikan. Dan sekarang di sinilah saya tinggal dan makan—di jantung Republik. Semoga saya tak lupa mengasah belati untuk yang disebut terakhir.

Foto-foto di atas dibuat dalam rangka bersenang-senang di proyek “Card to Post”. Pada “Lost in Jakarta (postcard – transportation series)” saya akan memotret ‘apapun’—yang menurut saya penting—terkait transportasi Jakarta.

Hal ini saya lakukan biar tak terlalu rumit dalam membuat kartu pos. Pertama saya adalah pengguna setia moda transportasi umum di Jakarta. Kedua fotografi bagi saya adalah aktivitas sambil lalu—sekedar melakukan hal menyenangkan dan bukan hal serius (menjadi penting karena hobi atau pekerjaan).

“sebagai penumpang gelap dalam bus, ‘bos’ kecil di atas taksi, borjuis menengah di Trans Jakarta, si pembenci macet bersama ojek atau seorang asing di Terminal”

 *) Card to Post, proyek online yang ingin menghidupkan lagi budaya berkirim kartu pos. kunjungi cardtopost.blogspot.com dan liat akun @cardtopost

_________________

*) Keterangan foto: 1) Metromini 75 Blok M – Radio Dalam; 2) Halte Trans Jakarta Blok M; 3) Memotret Apapun di Jakarta

 

Karya Sederhana dari Mereka yang Sederhana

Secara tidak sadar (baca: laten) kita sering menyepelekan mereka yang berkebutuhan khusus. Mungkin anggapan seperti itu akan terbantahkan ketika melihat hasil workshop fotografi yang dilakukan oleh teman-teman Kl!k18 (Komunitas Lensa Ilmu Komunikasi – Universitas Islam Indonesia) di SLB Marsudi Putra II Pandak-Bantul.

Workshop ini menjadi bagian dari rangkaian acara #berbagi dengan teman-teman SLB Marsudi Putra II Pandak-Bantul. #berbagi ini diprakarsai oleh beberapa orang dari berbagai kota, dikelola dan bergerak secara simultan lewat dunia jejaring sosial (Twitter). Continue reading

Konsumsi, Konsumsi, Konsumsi, Lalu Mati!

Resize2

“Jika konsumen adalah raja, maka industri adalah kasparov” (HOMICIDE)

Mari berandai-andai sejenak dengan lirik HOMICIDE di atas. Kasparov adalah yang terbaik dalam soal papan hitam-putih dengan bidak-bidak yang bertarung di dalamnya.  Kalo disebut sebagai asa otak, mungkin otak kasparov salah satu yang terbaik di dunia. Industri sebagai otak, dia yang menggerakan konsumen-konsumen. Dalam sebuah semboyan klasik konsumen di sebut sebagai raja. Tangan-tangan pendorongnya, secara tidak langsung mendorong konsumen pada kotak-kotak yang diinginkan. Mungkin tangan-tangan kasparov adalah media massa. Continue reading