Kuli bita

Tak banyak yang mengerutkan dahi saat mendengar istilah ‘kuli tinta’. Merujuk pada jurnalis; wartawan; atau mereka yang menggantungkan nafkah pada aktivitas menulis karangan (buku, artikel, dan serupanya). Dulu tinta memang eksis, ketika semua produksi tulisan sangat bergantung padanya. ‘Kuli tinta’ pun jadi relevan, istilah itu mengakomodir semangat zamannya.

Hari ini, orang kian sering memproduksi konten di internet. Hingga beberapa tahun lalu, secarik kertas memang masih menjadi hulu informasi. Tapi lihatlah sekarang, kita menikmati informasi dari piksel yang berbaris rapat-rapat di layar ponsel atau komputer. Dulu pesan dan informasi dititipkan pada tinta, yang kini perannya diambil oleh satuan data.

Dalam konteks sederhana itu, saya ingat kata ‘bita’ (inggris: byte) merujuk pada satuan penyimpanan di dalam komputer. ‘Kuli Bita’ mungkin bisa diajukan sebagai diksi alternatif untuk ‘kuli tinta’. Ia menyerap semangat zaman, terkhusus untuk penulis di era media baru (begitu kita mengartikan ‘new media’?), yang menyimpan informasinya dalam satuan-satuan data.

Sebutlah jurnalis sebuah situs berita, ia menyimpan (baca: unggah) semua tulisan berisi informasi dalam bentuk data. Data itulah yang kemudian dibuka (baca: unduh) oleh mereka yang ingin mengakses informasi, lewat sambungan internet berbekal perambaan. ‘Bita’ serupa ‘tinta’ pada zamannya. Keduanya adalah medium bagi manusia untuk menyebar atau bertukar informasi. Laman-laman yang kita kunjungi, diisi oleh satuan-satuan data. Seperti kertas-kertas surat kabar yang dipenuhi tinta.

‘Kuli bita’ atau ‘kuli tinta’. Akh, agaknya tak perlu menggunakan ‘kuli’, sebab mereka yang mencari nafkah dari menulis kini lebih suka digolongkan sebagai profesional, olehnya tak pantas disebut ‘buruh’ –atau lebih-lebih ‘kuli’. Tak usahlah ‘kuli bita’, bahkan ‘kuli tinta’ saja sudah jarang kita dengar.

Advertisements

Sweet Serenade

Saya ingat pertama kali mendengar mixtape ini, di sebuah kamar kost tiga-kali-tiga, kita bertukar cerita sambil memutar daftar lagu yang sepenuhnya di bawah kendalimu. Di lain hari, saya sedang terbaring sakit,  ketika mendengarkan lagu-lagu ini. Mixtape ini juga selalu tersimpan dalam alat pemutar lagu milikmu.

Durasinya 55 menit 48 detik, dengan 25 lagu di dalamnya. I’ll be Your Pillow jadi lagu yang paling saya suka. Boleh jadi, tiap-tiap orang punya lagu khusus yang mengingatkan mereka pada pasangan. Dalam kasus saya, itu terjadi ketika mendengar mixtape ini.

Silakan mendengarkannya di sini.

Dua Orang yang Sedang Kehilangan Akal

#duasejoli #kasmaran #makan #nasigoreng #pakaikerupuk #saya #obatnyamuk #nyamuknyabisainstagram

A post shared by Muammar Fikrie (@m_fikrie) on

Ini tentang dua orang yang sedang kasmaran. Saya mohon maaf, karena harus menulis baris-baris ini dengan samar –seperti foto di atas yang blur, serupa cinta yang mereka bagi dengan malu-malu.

Continue reading

Ijazah

SONY DSC

Sebagian besar dari kita menghabiskan lebih dari separuh hidup untuk mendapatkan surat sakti ini. Saya hanya punya satu. Dokumen ini menerangkan bahwa saya lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Saya kehilangan dua sebelumnya, dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD).

Jangan harap saya punya surat keterangan serupa dari Taman Kanak-kanak (TK). Saat TK, saya sudah mengenal “bolos” sebagai teori dan praktik. Hingga saat ini, saya belum punya surat yang menuliskan gelar di belakang nama.

Misty dan Panji Tengkorak

SONY DSC

Namanya Misty, betina terakhir yang bertahan hidup, tiga saudaranya dipeluk ajal saat persalinan. Makhluk terkecil dari total enam ekor kucing yang ikut mendiami paviliun kami saat ini.

Sore ini, saya sedang membuat tulisan lepas soal komik. Beberapa judul buku berserak di depan komputer mini, sembari menulis, sesekali saya melongok bahan-bahan itu untuk verifikasi. Tak berapa lama, Misty datang tanpa dosa, menuju ke bahan-bahan tulisan. Dia pun lelap di atas buku Panji Tengkorak – Kebudayan dalam Perbincangan (Seno Gumira Ajidarma). Bangun sebentar, kaget saat dipotret, celingak-celinguk, lalu lelap lagi. Semoga dia tak sempat pipis di atas buku.

“Putus Roll”

putus roll

Ibu saya lahir dan besar di Poso, Sulawesi Tengah. Kakek mewariskannya darah Gorontalo. Itu membuat gaya bertuturnya kental dengan rasa bahasa dari Utara Sulawesi, berciri perkawinan antara bahasa Indonesia dan serapan peninggalan kompeni. Banyak idiom uniknya yang masih melekat di kepala saya. Siang tadi, saya menggunakan satu di antaranya, “Putus Roll”.

“Akhhhh..hujan lagi..bikin Putus Roll..!!!”

Keberadaan kamera menjadi penting dalam sebuah acara (pesta). Bayangkan dalam sebuah acara, tak ada dokumentasi, tersebab roll film kodak –yang sedianya digunakan– putus (baca: rusak). Tentu saja itu mengurangi nilai pun menganggu acara. “Putus Roll” menemukan konteksnya.

*) sumber bahan foto academic.ru

9 Agustus 2011

Ini kicauan yang memulai pertemuan kami untuk kali ketiga. Pertemuan ketiga yang kami selesaikan dengan percakapan panjang di bawah payung mini-market 24 jam. Malam terlalu dingin, saya memesan bir, belakangan beberapa botol minuman hasil fermentasi bahan berpati itu gagal menyembunyikan kekaguman saya pada perempuan istimewa ini.

Resminya percakapan ini terjadi pada 10 Agustus 2011, tapi sistem penanggalan dari arsip Twitter memakai zona waktu AS.