“Leste”

image

Alkisah, republik yang kau cintai ini, pernah punya jajahan, kita kenal namanya Timor-Timur. Hafalan anak sekolah dasar menyebutnya sebagai “provinsi termuda di Indonesia” –sebagaimana diajarkan oleh kurikulum militer orde baru. Setelah merdeka namanya menjadi Timor Leste.

Foto diambil di ruang tamu, salah satu organisasi non pemerintah di Jogja. Agak janggal saja, meski sudah merdeka, penempatannya demikian. Kenapa tidak sejajar? Mungkin karena bentuk dan medium lambang yang tak sama, maka lebih proporsional di buat begitu. Atau jangan-jangan, memang kebanyakan dari kita tidak pernah lepas dari imaji nasionalisme.

Semoga bukan cinta atas nama nasionalisme itu juga yang membenarkan kekerasan militer di Papua, hari ini. Nasionalisme macam apa yang membenarkan orang bisa membunuh? Menjajah bangsa lain? Melakukan penindasan manusia atas manusia?

Advertisements

Merayakan ‘Kebebasan’ di Media Sosial

Dddasd

Indonesia merupakan negara pengguna Twitter terbesar kelima di dunia, dengan jumlah pekicau sebanyak 19,5 juta (semiocast.com). Di Facebook, republik yang anda cintai ini berada di peringkat tiga dengan 45,5 juta pengguna (socialbakers.com). Dengan statistik tersebut, tak mengherankan jika selalu ada yang menarik perhatian dari aktivitas media sosial di Indonesia—mengingat lalu lintas percakapannya juga tinggi. Continue reading