Gerilya Urban di Jembatan Kewek

Ratusan massa memperingati momen Serangan Umum 1 Maret di Jembatan Kewek, menolak komersialisasi ruang publik, Jumat (1/3/2013). Mulai dari pesepeda hingga pejalan kaki, seniman jalanan sampai pemerhati budaya,  merasa prihatin sebab jembatan itu telah bertambah fungsi menjadi penyampai pesan komersil dari salah satu operator seluler. Jembatan Kewek dinilai pantas menjadi cagar budaya, dan punya nilai sejarah. Jembatan yang terletak di bilangan Kota Baru itu disebut mereka sebagai saksi pertarungan antara pemuda dan tentara Belanda pada SU 1 Maret 1949. Massa memutihkan kembali Jembatan yang sebelumnya penuh warna-warni ceria iklan komersil. Meski berjumlah ratusan, tak ada kemacetan di jalan, Polisi pun tak ketambahan kerja.

*) foto diambil oleh @rian_yoyo 

Tak Ada Bioskop, Warkop Pun Jadi

Beberapa tahun silam, bioskop menjadi saksi pertumbuhan bagi saya yang berstatus remaja tanggung. “Six Days Seven Nights” dan “Species”, merupakan beberapa film yang pernah saya tonton di Palu Studio, yang mungkin saat itu sedang berjuang untuk menghindar dari sakratul maut. Kala itu, kegemaran saya dan kawan-kawan menonton film dibumbui juga dengan keinginan melihat singkapan belahan dada dan paha dari Natasha Henstridge atau  Anne Heche, anggap saja sebagai gejolak umum seorang remaja tanggung. Continue reading