“Penak Jamanku To?”

SONY DSC

Seorang kawan membeli gambar tempel ini seharga lima ribu rupiah dari pedagang asongan di perempatan RingRoad-Condong Catur, Yogya. Gambar lebih besar (seukuran A4) dijajakan senilai Rp15.000, tentu bisa ditawar. Tak sulit mendapatkannya, banyak yang menjajajakannya di  perempatan-perempatan utama Yogya.

Mulanya senyum Jenderal Harto ini hanya ada di beberapa truk, belakangan menyebar cepat. Pesannya sederhana, menertawakan kondisi Indonesia kekinian, sembari menyelip kabar kerinduan terhadap Soeharto dan Orde Baru. Inisiatif warga kah? Atau upaya sistematis dari kelompok-kelompok pro Orba? Saya lebih percaya yang terakhir.

Mungkin ada yang mau buat gambar tempel ini. Kalo korsa diganti KORSLET (minjam istilah kawan) sepertinya ok:

harto copy

Pieter Lennon

pieter lennon

Pieter Budiyatma, penjaja musik unik dari Yogyakarta. Lebih dikenal sebagai Pieter Lennon, sebab kesetiaannya membawakan tembang-tembang milik John Lennon dan The Beatles. Ini dilakoninya sejak tahun 80-an.

“Ngamen itu menghibur orang. Kalau ada yang ngasih duit, itu bonus,” ujar pria 57 tahun  itu kepada saya, pada sebuah kesempatan. Saban hari, Pieter turne di seputar Jalan Kaliurang, rata-rata membawa pulang 70-100 ribu rupiah per hari. Sekitar tahun 2005, di sebuah warung pecel-lele, kali pertama saya dihibur olehnya. Lewat gitar dan harmonika, Pieter membawa tembang I Wanna Hold Your Hand (The Beatles).

Ijazah

SONY DSC

Sebagian besar dari kita menghabiskan lebih dari separuh hidup untuk mendapatkan surat sakti ini. Saya hanya punya satu. Dokumen ini menerangkan bahwa saya lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Saya kehilangan dua sebelumnya, dari Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Dasar (SD).

Jangan harap saya punya surat keterangan serupa dari Taman Kanak-kanak (TK). Saat TK, saya sudah mengenal “bolos” sebagai teori dan praktik. Hingga saat ini, saya belum punya surat yang menuliskan gelar di belakang nama.

Misty dan Panji Tengkorak

SONY DSC

Namanya Misty, betina terakhir yang bertahan hidup, tiga saudaranya dipeluk ajal saat persalinan. Makhluk terkecil dari total enam ekor kucing yang ikut mendiami paviliun kami saat ini.

Sore ini, saya sedang membuat tulisan lepas soal komik. Beberapa judul buku berserak di depan komputer mini, sembari menulis, sesekali saya melongok bahan-bahan itu untuk verifikasi. Tak berapa lama, Misty datang tanpa dosa, menuju ke bahan-bahan tulisan. Dia pun lelap di atas buku Panji Tengkorak – Kebudayan dalam Perbincangan (Seno Gumira Ajidarma). Bangun sebentar, kaget saat dipotret, celingak-celinguk, lalu lelap lagi. Semoga dia tak sempat pipis di atas buku.

Roti untuk Rakyat

????????

Roti ini bisa ditemukan di rak-rak mini-market terdekat. Tiga hari terakhir, saya memilihnya sebagai teman ngopi. Kejunya cukup terasa –saya belum mencoba yang coklat. Tapi tak usah berharap untuk kenyang, roti ini lebih banyak menyediakan ruang kosong berisi angin. Setimpal dengan harganya, Rp1.500, termurah di jajaran roti sederajat yang menembus monopoli mini-market.

Perihal roti, di Rusia (1917), revolusi pun dipicu oleh makanan berbahan dasar tepung terigu dan air ini. Bolshevik sukses memainkan peran. Panen gandum yang gagal, bawa roti jadi barang langka, rakyat kesulitan. Lenin, tokoh komunis tersohor, merumuskannya dalam tuntutan “Peace, Bread, Land.” Bergemalah teriakan “Roti untuk Rakyat.”

“Putus Roll”

putus roll

Ibu saya lahir dan besar di Poso, Sulawesi Tengah. Kakek mewariskannya darah Gorontalo. Itu membuat gaya bertuturnya kental dengan rasa bahasa dari Utara Sulawesi, berciri perkawinan antara bahasa Indonesia dan serapan peninggalan kompeni. Banyak idiom uniknya yang masih melekat di kepala saya. Siang tadi, saya menggunakan satu di antaranya, “Putus Roll”.

“Akhhhh..hujan lagi..bikin Putus Roll..!!!”

Keberadaan kamera menjadi penting dalam sebuah acara (pesta). Bayangkan dalam sebuah acara, tak ada dokumentasi, tersebab roll film kodak –yang sedianya digunakan– putus (baca: rusak). Tentu saja itu mengurangi nilai pun menganggu acara. “Putus Roll” menemukan konteksnya.

*) sumber bahan foto academic.ru

9 Agustus 2011

Ini kicauan yang memulai pertemuan kami untuk kali ketiga. Pertemuan ketiga yang kami selesaikan dengan percakapan panjang di bawah payung mini-market 24 jam. Malam terlalu dingin, saya memesan bir, belakangan beberapa botol minuman hasil fermentasi bahan berpati itu gagal menyembunyikan kekaguman saya pada perempuan istimewa ini.

Resminya percakapan ini terjadi pada 10 Agustus 2011, tapi sistem penanggalan dari arsip Twitter memakai zona waktu AS.

Gerilya Urban di Jembatan Kewek

Ratusan massa memperingati momen Serangan Umum 1 Maret di Jembatan Kewek, menolak komersialisasi ruang publik, Jumat (1/3/2013). Mulai dari pesepeda hingga pejalan kaki, seniman jalanan sampai pemerhati budaya,  merasa prihatin sebab jembatan itu telah bertambah fungsi menjadi penyampai pesan komersil dari salah satu operator seluler. Jembatan Kewek dinilai pantas menjadi cagar budaya, dan punya nilai sejarah. Jembatan yang terletak di bilangan Kota Baru itu disebut mereka sebagai saksi pertarungan antara pemuda dan tentara Belanda pada SU 1 Maret 1949. Massa memutihkan kembali Jembatan yang sebelumnya penuh warna-warni ceria iklan komersil. Meski berjumlah ratusan, tak ada kemacetan di jalan, Polisi pun tak ketambahan kerja.

*) foto diambil oleh @rian_yoyo 

Tak Ada Bioskop, Warkop Pun Jadi

Beberapa tahun silam, bioskop menjadi saksi pertumbuhan bagi saya yang berstatus remaja tanggung. “Six Days Seven Nights” dan “Species”, merupakan beberapa film yang pernah saya tonton di Palu Studio, yang mungkin saat itu sedang berjuang untuk menghindar dari sakratul maut. Kala itu, kegemaran saya dan kawan-kawan menonton film dibumbui juga dengan keinginan melihat singkapan belahan dada dan paha dari Natasha Henstridge atau  Anne Heche, anggap saja sebagai gejolak umum seorang remaja tanggung. Continue reading