Kuli bita

Tak banyak yang mengerutkan dahi saat mendengar istilah ‘kuli tinta’. Merujuk pada jurnalis; wartawan; atau mereka yang menggantungkan nafkah pada aktivitas menulis karangan (buku, artikel, dan serupanya). Dulu tinta memang eksis, ketika semua produksi tulisan sangat bergantung padanya. ‘Kuli tinta’ pun jadi relevan, istilah itu mengakomodir semangat zamannya.

Hari ini, orang kian sering memproduksi konten di internet. Hingga beberapa tahun lalu, secarik kertas memang masih menjadi hulu informasi. Tapi lihatlah sekarang, kita menikmati informasi dari piksel yang berbaris rapat-rapat di layar ponsel atau komputer. Dulu pesan dan informasi dititipkan pada tinta, yang kini perannya diambil oleh satuan data.

Dalam konteks sederhana itu, saya ingat kata ‘bita’ (inggris: byte) merujuk pada satuan penyimpanan di dalam komputer. ‘Kuli Bita’ mungkin bisa diajukan sebagai diksi alternatif untuk ‘kuli tinta’. Ia menyerap semangat zaman, terkhusus untuk penulis di era media baru (begitu kita mengartikan ‘new media’?), yang menyimpan informasinya dalam satuan-satuan data.

Sebutlah jurnalis sebuah situs berita, ia menyimpan (baca: unggah) semua tulisan berisi informasi dalam bentuk data. Data itulah yang kemudian dibuka (baca: unduh) oleh mereka yang ingin mengakses informasi, lewat sambungan internet berbekal perambaan. ‘Bita’ serupa ‘tinta’ pada zamannya. Keduanya adalah medium bagi manusia untuk menyebar atau bertukar informasi. Laman-laman yang kita kunjungi, diisi oleh satuan-satuan data. Seperti kertas-kertas surat kabar yang dipenuhi tinta.

‘Kuli bita’ atau ‘kuli tinta’. Akh, agaknya tak perlu menggunakan ‘kuli’, sebab mereka yang mencari nafkah dari menulis kini lebih suka digolongkan sebagai profesional, olehnya tak pantas disebut ‘buruh’ –atau lebih-lebih ‘kuli’. Tak usahlah ‘kuli bita’, bahkan ‘kuli tinta’ saja sudah jarang kita dengar.

One thought on “Kuli bita

  1. Bagi saya, sebagai istilah yang “tidak operasional” lagi, istilah kuli tinta itu masih bisa dipakai. Itu seperti “wire service” padahal berita dari kantor berita tak dikirim melalui kawat (teleks) dari sebuah cable address (alamat kawat).🙂 Arkais begitu.😀
    Tak semua istilah harus sesuai kenyataan? Mungkin. Biarpun dikirim via darat dan udara, istilah “shipment” dan “shipping” masih dipakai oleh toko-toko online dunia.

    Ketika jurnalis Indonesia sedang mengalami euforia menggunakan komputer untuk bekerja, ada yang menggunakan istilah “kuli disket”. Mungkin supaya keren. Nyaanya disket segera dientahkan oleh stotage lain dan… jaringan plus server. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s