Pink Pizza

Ketika memulai tulisan ini, saya meraba lagi ingatan ihwal perkenalan saya dengan dunia daring. Itu terjadi ketika saya masih mengenakan seragam putih-biru, dan berstatus remaja tanggung. Latarnya awal era milenium, Palu belum lagi semaju saat ini.

Sesekali saya dengar cerita bapak dengan teman-temannya, mereka acap menyebut istilah “situs”, “email”, atau “milis”. Namun, waktu itu tak banyak penjelasan yang saya terima terkait ragam istilah di muka. Resminya, perkenalan saya dengan internet justru dimulai dari bacaan di koran, tabloid, atau majalah. Dari media cetak itu, saya dan beberapa kawan tahu ada makhluk bernama internet.

Jangan mengharapkan sekolah mengajarkan kami tentang internet. Saat banyak orang sudah terbiasa dengan OS Windows, saya dan banyak siswa SMP lainnya di Palu masih diajarkan bagaimana membuka program WordStar untuk mengetik. Kami masih bergelut dengan bahasa-bahasa rumit untuk menggerakkan sistem DOS. Kami juga kenal baik dengan perangkat purba, cakram flopy. Itu adalah kurikulum yang diajarkan di sekolah menengah pertama, yang konon paling maju di Palu. Kami menelannya, tanpa tahu bahwa beberapa tahun kemudian, teknologi itu jadi sesuatu yang purba.

Saat itu di Palu, koran pagi nasional sampai di tangan pelanggan ketika sore, terkadang juga malam bila pesawat tertunda. Sementara untuk kasus tabloid dan majalah, telat satu-dua hari jadi hal yang biasa. Boleh jadi bagi kami  (pembaca media cetak di Palu) agak sulit membedakan istilah berita hangat, nyaris dingin, atau bahkan basi. Sementara koran lokal seperti biasa masih memuat seremonial acara pemerintahan, atau berita-berita politik lokal–yang aktornya itu-itu saja, dan mulai membosankan. Tentu saja ketika internet datang, kelemahan-kelemahan tadi jadi tertebas. Bagaimana tak riang gembiranya, seorang remaja tanggung –yang haus infromasi dan ingin terlihat keren– saat mengenal internet.

Saya tak ingat persis ada berapa jumlah warung internet (warnet) di Palu ketika itu. Saya hanya ingat tiga lokasi warnet –dua di antaranya bahkan saya lupa namanya: 1) Jalan Juanda atas, tak jauh dari Palu Studio, bioskop yang sekarang telah berpredikat RIP; 2) beberapa kabin warnet di kampus Untad lama (Jalan Setiabudi); 3) Pink Pizza, di jalan Gajah Mada, sebelah barat jembatan Palu I.

Nama terakhir merupakan tempat saya banyak menghabiskan waktu untuk berkenalan dengan dunia daring. Sebenarnya saya sempat mengenal internet, dengan mengakses dari kantor bapak, namun tak baik rasanya bila terus-terusan numpang di situ. Jadilah saya harus menghemat uang jajan, demi bisa berselancar di Pink Pizza. Sesekali ibu memberikan uang ekstra untuk berinternet.

Saya lupa persisnya tarif internet kala itu. Dalam ingatan saya yang terbatas –bila salah, silakan diluruskan– harganya sekitar tujuh ribu rupiah per jam, dengan diskon khusus untuk pelajar dan mahasiswa. Sementara uang jajan saya hanya tiga ribu lima ratus rupiah. Terkadang untuk mengakses internet, saya dan beberapa teman harus patungan, dan rela berbagi bilik. Satu bilik bisa diisi dua sampai empat orang.

Terkait biaya, kala itu seorang sepupu saya, bisa mengakses internet dari rumahnya. Paman saya memberikan keleluasaan pada anaknya itu guna mengakses internet instan dengan sambungan kabel telepon. Punya komputer di rumah sudah tergolong mewah, terlebih jika dilengkapi koneksi internet. Kadang bila tak punya uang, saya pergi ke rumah paman untuk berselancar. Itupun tak lama, lantaran harus mengantri komputer dengan sepupu saya.

Di Internet, saya pertama kali mengenal situs macam astaga, hotmail, plasa, yahoo –beberapa nama itu ada yang masih eksis, ada pula yang telah terkubur, atau hampir mati. Saya punya akun surel di berbagai domain itu. Salah satu mainan paling menarik adalah aplikasi chatting lawas, mIRC. Lewat aplikasi beken itu, saya bisa bertukar cerita dengan orang-orang yang sebelumnya tak saya kenal. Saya jadi tahu apa yang terjadi di dunia remaja Jakarta, Bandung, Jogja atau lainnya. Pun mereka jadi tahu cerita tentang kami di Palu. Kegemaran yang lain adalah membuka situs-situs berita olahraga macam Bolanews. Sesekali juga mencari berita musik atau kord gitar. Meski saya tak paham main gitar, tapi setidaknya itu bisa jadi bahan untuk teman yang lain. Sering pula berselancar tanpa arah, keluar masuk situs berita, lihat-lihat laman resmi band atau klub bola.

Boleh jadi kemunculan internet di Palu, setaraf dengan kehadiran ruang menonton (atau katakanlah bioskop) seperti yang diceritakan dalam film Cinema Paradiso. Setidaknya pada kasus saya dan beberapa teman-teman yang lain: kami adalah generasi yang tergila-gila mengkonsumsi apapun di internet, serupa Salvatore kecil yang setengah sinting dengan film dan bioskop. Selayaknya bioskop yang menjadi sarana transformasi kebudayaan, seperti itulah yang (mungkin) terjadi dengan internet di kota macam Palu –ketika itu, atau bahkan hingga beberapa tahun belakangan. Patut diingat kemunculan internet berbarengan dengan napas-napas terakhir beberapa gedung bioskop di Palu.

Harus pula jujur, bahwa di usia itu sesekali saya dan teman-teman juga iseng mencari material porno. Misalnya, kami ingin tahu isi situs 17tahun.com atau sebangsanya. Bolehlah kami bersyukur, sebab di warnet tak ada interupsi dari seorang pemuka agama (sebagai sensor), seperti yang bisa Anda lihat dalam Cinema Paradiso.

***

Kejadian itu terjadi sekitar tiga belas tahun silam. Kini dunia daring makin hebat, saya kadang hanya bisa berdecak-kagum melihat perkembangannya. Sulit membayangkan bila di masa kini ada media sosial macam Facebook atau Twitter, saat kami masih menggunakan mIRC di saat itu. Tapi inilah era internet, semua berlangsung serba cepat tak hanya informasi tapi juga akselerasi teknologinya.

Tiga belas tahun lalu, tak jarang saya jalan kaki dari rumah seorang kawan di bilangan Mohammad Hatta, menuju Pink Pizza (sekitar 1,5 kilometer). Hanya untuk menghabiskan satu-dua jam di bilik warnet, berselancar, dan menyerap informasi.

Belakangan, bersama kawan yang sama –serta beberapa karib yang lain– kami membangun Step!Magz, sebuah webzine lokal di Palu. Ketika membangunnya, saya bilang ke kawan-kawan saya, “harapanku sederhana, ada anak muda yang rela ke warnet atau menghabiskan pulsa teleponnya, untuk membuka situs ini dan menyerap sesuatu darinya.  Serupa dengan yang kita lakukan beberapa tahun silam.” Selain aktivitas kecil bersama Step!Magz, kini saya juga rutin memproduksi konten untuk sebuah situs berita yang berpusat di jalan Langsat, Jakarta.

Dulu saya harus rela menyimpan uang jajan untuk mengakses internet, kini dunia itu jadi tempat dan cara saya bertahan hidup. Serupa ladang atau sawah di mata petani; seperti pabrik bagi buruh; atau laut untuk nelayan. Kini saya membuat konten, mempublikasikannya di dunia daring, dan mendapat upah karenanya.

***

Di penghujung tulisan ini, ingatan saya tertuju pada sosok lelaki dengan tinggi badan tak seberapa, rambut belah tengah, dan berkulit sawo matang. Dia adalah orang yang kerap menjaga warnet Pink Pizza (bisa jadi juga pemiliknya). Saya lupa namanya, atau bahkan kami memang belum sempat berkenalan ketika itu.

Saat berjaga, tak jarang ia kedatangan sejumlah teman. Dari caranya bercerita dengan teman-temannya –yang kerap kami dengar di balik bilik warnet– terlihat bahwa ia adalah pribadi yang periang. Namun, agaknya ia juga malas melihat kami, yang kerap menumpuk dalam bilik-bilik warnetnya. Di sisi lain, bisa jadi ia senang dengan kedatangan kami, sebab tak banyak juga orang yang mau menghabiskan waktu di warnet kala itu.

Saya tak ingat persis kapan Pink Pizza tutup usaha. Ketika usia saya memasuki masa SMA, sudah lebih banyak warnet tersebar. Beberapa tahun kemudian, internet rumahan juga lebih murah. Hal itu membuat keluarga kelas menengah bisa memasang koneksi internet di bawah atap mereka. Belum lagi kemunculan warung kopi modern yang menyediakan fasilitas Wi-Fi gratis. Mungkin ketika itu Pink Pizza mulai sekarat. Bila sedang di Palu, setiap lewat jalan Gajah Mada, saya pasti ingat di situ pernah ada warnet, dinding depannya bertuliskan: Pink Pizza.

*) Tulisan ini untuk keperluan tugas kuliah Jurnalisme Online, kami diminta untuk menulis dengan tema “Pengaruh dunia online dalam hidup Anda”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s