Arief dan Kegelisahan Warga Jogja

arief

Muhammad Arief (17 tahun) mendadak jadi buah bibir pasca aksinya menebalkan teks “Jogja Ora Didol” di Pojok Beteng Wetan, Jogja.

Pemuda kotagede itu divonis bersalah telah melanggar Pasal 1 Ayat 1 angka 2 Perda Kota Yogyakarta nomor 7/2006 tentang perubahan ketentuan pidana jo Pasal 16 huruf e Perda nomor 18/2002 tentang pengelolaan kebersihan. Ia diganjar hukuman tujuh hari penjara dengan 14 hari masa percobaan, dan denda biaya perkara seribu rupiah. Tindakan Arief memang hanyalah “kelas” Tindak Pidana Ringan (Tipiring), namun di baliknya ada masalah-masalah yang jauh lebih serius. Mulai dari soal kebebasan berpendapat, jarak yang terbentang antara seniman dan warga, hingga soal kesadaran politik.

Teks yang dibenahi Arief merupakan bagian dari Festival Seni MencariHaryadi, sebuah ajang berkesenian yang berusaha menemukan persoalan-persoalan perkotaan di Jogja. Ajang ini digelar oleh sejumlah seniman dan komunitas di Jogja. Dari model penulisannya, tak cukup jelas apakah Haryadi yang dimaksud adalah orang yang sekarang menjabat Walikota Jogja atau bukan. Jikapun benar, besar kemungkinan para peggerak festival melihat Jogja kian semrawut, sementara pemerintah (Haryadi) malah absen.

Pihak festival telah mengkonfirmasi, bahwa Arief adalah bagian dari mereka. Hal yang sama, (bahkan mungkin lebih tegas  sebab dia menggunakan frasa “pak walikota”) juga dinyatakan Arief, “Saya bersolidaritas dengan festival itu. Saya sepakat untuk melawan pak Walikota, karena kebijakannya yang buruk.”

***

Seniman (atau Seniman Mural) merupakan beberapa lema yang sering dilekatkan media sebagai atribut untuk Arief. Seperti biasa, penggunaan lema itu juga diikuti oleh para pengguna media sosial. Agaknya atribut itu kurang tepat, sebab potret Arief justru jauh dari profil seorang seniman.

Kesalahan atribut itu bisa membawa konsekuensi pada gerakan protes terhadap kebijakan-kebijakan pemkot Jogja. Konsekuensi paling jauh masalah-masalah perkotaan di Jogja, hanya akan dinilai sebagai isunya para seniman. Padahal persoalan ini (boleh jadi) merupakan kegelisahan sebagian besar warga Jogja. Untuk itu, menjadi perlu menjelaskan siapa Arief sebenarnya, agar kita bisa melihat duduk perkara ini dengan lebih terang.

Sehari-hari pemuda ini berprofesi sebagai seorang pekerja di sebuah perusahaan Sablon. Di Facebook setengah bercanda ia menyebut dirinya sebagai, “pegawai teladan di Kaos Sablon”. Ia sempat bersekolah hingga kelas tiga SMA, belakangan bangku pendidikan itu ditinggalkan. Arief memilih mencari nafkah untuk membantu ibunya.

Arief juga adalah cermin remaja kekinian. Menggilai musik, dan menyenangi hal-hal kreatif. Nama akunnya di facebook “Aripch Kamtiz Part” nama tengahnya merujuk pada sebutan bagi penggemar Endank Soekamtie, gerombolan melodic punk yang banyak diidolai remaja. Ia juga menggemari musik-musik ERWE, band lokal Jogja yang terkenal dengan semboyan “Error Without Emotion”. Kikie Pea, wartawan Tribun Jogja menceritakan wawancaranya dengan Arief pada saya, dari sana saya tahu Arief ingin sekali bertemu dengan para personil Superman is Dead, band Punk asal Bali.

Saat dikerubungi wartawan sebelum dan sesudah persidangan, Arief sering menjawab pertanyaan mereka dalam bahasa Jawa. Kepada Kikie, Arief sempat meminta maaf, dia mengaku lebih nyaman bercerita dalam bahasa Jawa.

Persingungan Arief dengan gerakan protes terhadap masalah-masalah perkotaan di Jogja, dimulai sejak keaktifannya di Jogja Last Friday Ride, sebuah event bersepeda tiap Jumat  terakhir di akhir bulan. Dengan BMX andalannya, Arief setia mengikuti kegiatan ini, sembari memupuk kesadaran terhadap masalah-masalah publik di sekitarnya.

Para pegiat Jogja Last Friday Ride menaruh perhatian pada masalah-masalah perkotaan. Misal saat mereka melakukan aksi perbaikan ruang tunggu sepeda di Jogja. Di waktu lain, bersama dengan beberapa street artist, mereka menjadi tulang punggung utama dalam aksi pemutihan kembali jembatan kewek dari serangan ilkan komersial. Mereka juga menjadi penggagas “Ora Masalah Har” –sebuah kampanye dan protes terhadap kebijakan pemerintah kota Jogja, yang dinilai tak pro pesepeda. Beberapa pegiat Jogja Last Friday Ride juga menjadi penggerak dalam Festival Seni MencariHaryadi.

Senin, 7 Oktober 2010, seperti biasa Arief berkumpul dengan teman-temannya, di Angkringan Kotagede. Tak ada niat untuk melancarkan aksinya. Beranjak malam, bersama kawan-kawannya Arief menuju Warnet Gambiran.  Seperti biasa membuka Facebook adalah salah satu aktivitasnya bila sedang di warnet. Dari situs jejaring sosial itu, Arief melihat foto yang menunjukkan tulisan “Jogja Ora Didol”  di Pojok Beteng Wetan telah dihapus. Tulisan itu sebelumnya dibuat oleh Adit HereHere (street artist), dalam rangka Festival Seni MencariHaryadi

Di sinilah muncul inisiatif untuk menebalkan lagi tulisan tersebut. Bersama tiga orang kawannya Koko, Cristiawan, dan Adnan), Arief menyusun rencana. Ia pun pulang ke rumah mengambil cat, sementara kawan-kawannya melakukan survei lokasi. Dengan sepeda mereka menuju lokasi.

Ketika sedang mengecat, Arief melihat mobil satpol PP mendekat ke arah mereka. Saat itu tulisan baru sampai di kata “Jogja”, empat orang petugas keluar dari mobil kijang, menyalak mengeluarkan perintah agar Arief segera turun. Arief meniru perintah salah satu petugas, “Medun, nek ra iso, tak bedil ndasmu” (“Turun, kalo tidak bisa, kutembak kepalamu”) . Di dalam mobil, Arief sempat ditakut-takuti oleh petugas, “Kurang jelas itu senjata atau bukan, tapi bapaknya megang sesuatu di pinggangnya, tak sampai dicabut” jelasnya.

Saat itu yang tertangkap adalah Arief dan Adnan. Mereka dibawa ke kantor Dinas Ketertiban Kota Yogyakarta. Pemeriksaan dilakukan sejak pukul setengah dua dini hari sampai pukul tiga seperempat. Karena masih di bawah umur, Adnan (14 tahun) hanya mendapatkan peringatan, dan disuruh menandatangani surat keterangan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Sementara Arief harus melewati proses sidang di Pengadilan Negeri Yogya.

Salah satu pertanyaan hakim pada Arief, “sudah berapa kali melakukan aktivitas seperti ini?”. Arief mengaku dia melakukannya baru sekali. Setelah divonis bersalah, Arief menjelaskan bahwa perasaannya biasa saja. Dia malah berharap apa yang dilakukannya bisa menginspirasi warga Jogja lainnya. “Saya tidak jera dan akan tetap melawan pak walikota,” ujar Arief setelah persidangan.

***

Arief jelas hanya warga biasa yang merasa prihatin dengan kotanya. Dia adalah pemuda yang harus membayar seribu rupiah sebagai denda karena menorehkan cat di situs budaya yang terbengkalai. Mungkin juga dia tak kenal frasa “cat minyak di atas kanvas”, karena lebih sering bergelut dengan kaos dan cat sablon. Tapi Arief adalah jembatan yang menyambungkan protes seniman dan kegelisahan warga. Sebab pemuda itu dan aksinya adalah potret dari kegelisahan-kegelisahan yang hidup di tengah warga Jogja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s