Merayakan ‘Kebebasan’ di Media Sosial

Dddasd

Indonesia merupakan negara pengguna Twitter terbesar kelima di dunia, dengan jumlah pekicau sebanyak 19,5 juta (semiocast.com). Di Facebook, republik yang anda cintai ini berada di peringkat tiga dengan 45,5 juta pengguna (socialbakers.com). Dengan statistik tersebut, tak mengherankan jika selalu ada yang menarik perhatian dari aktivitas media sosial di Indonesia—mengingat lalu lintas percakapannya juga tinggi.

Sudah jadi rahasia umum, saat layar-layar komputer di kantor lebih banyak menampilkan halaman Facebook dibanding aplikasi yang berhubungan dengan pekerjaan. Kita juga sama-sama gelisah saat kehangatan bercengkrama dan berkumpul bersama teman ter-distorsi oleh kepala-kepala yang lebih banyak menunduk di layar ponsel cerdas, asik berkelana di jejaring sosial.

Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Kehadiran media sosial telah menawarkan ‘kebebasan’ di era modern. Inilah masa di mana setiap orang menjadi—kalau tidak ingin disebut merasa—unik dan penting. Di sinilah kita berada, di saat media sosial menjadi calon kuat ‘penjual kebebasan’ tersukses di era ini.

Apakah ini benar-benar kebebasan? Jika iya, maka pertanyaan selanjutnya: Apakah kita sudah siap dengan ‘kebebasan’ ini? Izinkan tulisan ini memulai sebuah omong kosong tentang pertanyaan tersebut. Maka omong kosong ini akan saya mulai dengan menyebut beberapa fenomena (baca: gejala umum) di media sosial—sebagai refleksi untuk bertanya lagi soal makna ‘kebebasan’. Sekedar mengingatkan: ada pula beberapa dampak positif media sosial yang sudah banyak dipuja-puja orang—rasanya saya tak perlu mengulangnya di sini.

Merayakan kritik di media sosial

Kanal-kanal berpendapat, seperti partai politik atau organisasi kemasyarakatan mulai ditinggalkan—mungkin sebagian merasa jenuh dengan model ini. Di sisi lain media sosial menyediakan saluran praktis untuk itu. Orang-orang dengan nyaman bisa berpendapat via media sosial, tanpa harus membuang waktu ikut aksi massa atau cara penyampaian pendapat yang lain. Tak heran jika muncul akun-akun dengan pencitraan kritis—terlebih di Twitter. Bahkan beberapa kalangan merasa aktivitis kritik di media sosial memperlihatkan kecenderungan ‘lupa’ nilai penting aktivitas kritik—bahkan gerakan sosial—di ranah luring (luar jaringan).

Melihat fenomena yang terjadi di Mesir, Tunisia dan beberapa negara timur tengah lainnya agaknya model ini cukup efektif. Apakah ada gerakan sosial di Indonesia yang muncul dari hiruk-pikuk media sosial? Apalagi mengingat angka pengguna media sosial di sini sangat tinggi dibanding beberapa negara lain di atas.

Sebutlah gerakan ‘Indonesia tanpa FPI’ atau diseberangnya ‘Indonesia tanpa JIL’—konon keduanya disebut sebagai gerakan yang lahir dari media sosial. Saya tak hendak mengevaluasi, tapi tengoklah aksi luring mereka? Kita bisa menyimpulkan bahwa keramaiannya lebih terasa di daring (dalam jaringan) dibanding di luring.

Atau mari menghitung sekian banyak ‘Gerakan Sejuta Facebookers dukung A/B/C dll’, berapa banyak yang sukses. Tengok saja halaman-halaman ‘sejuta’ tersebut, hitunglah berapa banyak anggota mereka? Mungkin hanya gerakan ‘sejuta’ cicak vs buaya yang sempat menyentuh angka itu. Apakah fenomena daring itu berefek di luring? Silakan dijawab. Apapun jawabannya, kita sama-sama berharap media sosial bisa membawa dampak baik bagi gerakan sosial di negeri ini.

Bertanya soal pseudonym

Perayaan kebebasan media sosial di Indonesia juga berarti menjamurnya akun anonym—belakangan istilah ini banyak direvisi, orang mulai nyaman dengan penggunaan: pseudonym. Di Twitter kita bisa ketemu beberapa akun seperti: trio macan, benny Israel, provokatrok dll. Akun-akun ini banyak bercerita soal isu (banyak berbau konspirasi) sosial-politik di linimasa. Rajin mengkritik pemerintah, memanfaatkan kebebasan di media sosial. Tak heran jika Tifatul Sembiring—bapak menteri yang hobi berpantun itu—melempar wacana untuk mengawasi dan mungkin saja menertibkan akun-akun seperti ini.

Pada dasarnya semua bebas-bebas saja. Tapi harus pula bertanya, jika benar sedang merayakan kebebasan kenapa harus menutup identitas? Atau memang mereka masih lebih nyaman dengan cara tersebut? Semua bebas saja (lagi).

Asik adu cerdas

Ingin berdebat? Cukup berkicau di ‘situs burung biru’ anda akan ketemu dengan lawan-lawan berdebat yang sepadan. Tak heran jika fenomena seperti tweet war sering terjadi—saya pribadi lebih suka dengan istilah tweet share. Meski tak terjadi pada semua kasus, tapi sebagian orang menganggap aktivitas ini terlihat sebagai arena adu cerdas. Sulit membayangkan tweet warbisa berefek baik.

Bukankah internet sudah menghadiahi kita sesuatu bernama blog. Yang disebut terakhir ini, kayaknya lebih pas untuk menjadi arena perdebatan, orang bisa menulis panjang lebar. Posting blog tentunya jauh lebih efektif dibanding debat sesak di wadah 140 karakter. Atau mungkin kita (bahkan dengan sengaja) lupa dengan keberadaan blog?

Mungkin terkesan sedikit tergesa-gesa, tapi hal ini hampir mirip dengan kebiasan ngobrol diskusi (lisan) dan lupa untuk menulis. Suatu hal yang sangat laten hadirnya bagi siapapun (termasuk saya) di Indonesia. Bahkan lebih berbahaya dari warning kosong: ‘bahaya laten komunisme’.

Bermain makna ‘publik’ di ruang publik

Ini fenomena paling lucu di era kebebasan, saking bebasnya orang bisa membuat akun sesuka hati di media sosial. Contoh paling dekat adalah beberapa akun yang menyebut diri dengan identitas kota (semisal: akun soal_kota_A/B/C dll). Dengan mengidentikkan diri dengan identitas kota maka secara tidak langsung akun-akun seperti ini akan dilihat sebagai representasi sebuah kota di media sosial—yang juga sudah dimaknai sebagai ruang publik.

Menariknya tak semua kicauan akun-akun kota tersebut dinilai bijak. Beberapa admin-nya suka bermain-main dengan kepentingan pribadi mereka lewat akun-akun kota tersebut.

Tak jarang para pengguna media sosial yang kebetulan berasal dari kota yang sama merasa terusik. Misalnya: Apa pentingnya bertanya soal sepakbola luar negeri via akun yang menyertakan embel-embel Kota Palu? Di soal-soal seperti
ini kebebasan menjadi menyengkarut tak karuan.

Belajar lagi makna ‘bebas’

Mari menengok ke YouTube, sebuah situs media sosial berbasis video. Saya menemukan beberapa kejanggalan dalam aktivitas di sana, yang paling mengganjal adalah tayangan-tayangan televisi yang sering menyertakan catatan kecil: ‘courtesy of YouTube’. Ini agak kurang peka, kalo paham hakikat YouTube posisinya hanya sekedar penyedia layanan, bukan pihak yang bertanggung jawab atas video-video di sana.

Kebanyakan kita meminjam kata ‘bebas’ untuk memaklumi—bahkan mungkin saja gak paham—tayangan televisi seperti ini. Padahal kalo mau jeli di YouTube, setiap video dipublikasikan oleh akun-akun pengguna layanan mereka. Jadi yang tepat adalah menuliskan juga siapa yang meng-upload (akun apa yang mempublikasikan). Beberapa video bisa saja memiliki hak cipta—meski saya tidak begitu suka dengan wacana ini—tapi soal etika menjadi penting. Dalam kasus ini, kata ‘bebas’ juga dipinjam oleh para pengelola stasiun televisi.

Bertanya lagi soal ‘kebebasan’

Fenomena-fenomena di atas, boleh jadi telah menggambarkan sekian banyak cara kita memaknai ‘kebebasan’. Apa benar kita memang sedang merayakan kebebasan dengan media sosial? Mungkin kita akan bersepakat menyebut: YAH!

‘Kebebasan’ media sosial-lah yang telah membuat orang lupa dengan kritik dan gerakan sosial di luring. ‘Kebebasan’ juga yang membuat pseudonym—jdan akun-akun dengan embel-embel kota—nyaman bersembunyi di baliknya. Dia juga yang membuat orang asik adu cerdas dan memupuk pencitraan. Fenomena YouTube dan Televisi juga menunjukan kita masih perlu belajar memaknai ‘kebebasan’.

‘Kebebasan’ menjadi kata yang paling sering dieksploitasi maknanya di era kekinian. Ada yang gelisah soal makna ‘kebebasan’? Mungkin Albert Camus dan Friedrich Nietzsche—dua pemikir eksistensialis, kadang juga diasosiasikan dengan nihilist—bisa melukiskan kegelisahan kita soal ‘kebebasan’. “Freedom is nothing else but a chance to be better,” ujar Camus. Atau penyataan gelisah Nietsche berikut: “liberalism, is transformation of mankind into cattle.” Mulai ketakutan?

*) Di-publish juga di url: http://www.stepmagz.com/2012/03/memaknai-arti-kebebasan-di-media-sosial/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s