Ada Apa Dengan Punk?

Pembinaan-punker-4

Seperti halnya Cinta yang dipertanyakan dengan nada diplomatis dalam judul film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ –saya ingin bertanya ‘Ada Apa Dengan Punk?’. Pertanyaan diplomatis ini mesti ditanyakan ke khalayak yang ramai berkoar soal Punk. Akhir-akhir ini Punk menjadi salah satu topik pembicaraan utama. Di jagat media sosial, Punk mendadak penting. Selanjutnya banyak politisi dan aktivis akhirnya mendadak Punk, agar terlihat penting.

Tak kurang lagi berita soal penangkapan, pemukulan, penggundulan dan pemenjaraan 65 Punkers di Aceh. Jelaslah ini yang membuat diskursus soal Punk menjadi ramai akhir-akhir ini. Kasus ini mendapat perhatian dari media lokal, nasional dan internasional –bahkan kemungkinan di alam gaib sekalipun, saking ramainya—. Solidaritas atasnya pun tak kurang: mulai dari media sosial, graffiti action, aksi massa, gigs bahkan mixtape.

“Tak ada satu manusia-pun di muka bumi ini yang bisa dikerasi hanya karena pilihan (ideologi, agama dll) hidup mereka.” Jika bersepakat Punk sebagai pilihan  hidup, maka solidaritas saya atas Punk Aceh sama seperti solidaritas saya kepada pengikut Ahmadiyah, umat gereja GKI Yasmin atau para penganut Syiah yang dibakar rumahnya. Solidaritas saya kepada mereka setaraf juga dengan solidaritas atas sengketa lahan petani Kulon Progo atau Mesuji. Setaraf juga dengan perampasan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat di Bima.

Beberapa waktu lalu di twitter saya ucapkan: “Kepadamu kitab hukum apapun, kepala kami takan pernah tunduk #punk.” Perhatikan foto para Punk Aceh dan ingatkan jika saya salah. Di sana terlihat kepala Punk Aceh tunduk di bawah kepolisian syariah. Atas nama kebebasan berekspresi dan segala atributnya di tubuh mereka, mari melihat barisan perlawanan rakyat di Kulonprogo, Bima dan Mesuji, mereka berlawan ketika hak-haknya diambil. Dalam iman terendah sekalipun, semoga kawan-kawan di Aceh sedang berlawan.

Jika ingin membandingkan beberapa penjelasan di atas, tentu kita akan terjebak pada debat kusir. Debat dengan membandingkan (yang seharusnya tak perlu) mana yang lebih kejam pencukuran rambut atau menetesnya darah rakyat di Bima dan Mesuji. Ingat di Bima mereka memblokir pelabuhan, bukan meminta belas kasihan pemerintah. Di Mesuji orang menyabung nyawa hanya untuk memanen sawit.

Pertama: solidaritas untuk Punk Aceh menjadi terlalu berlebihan dan terkesan melupakan kasus-kasus lain. Tak kurang literasi (besar maupun kecil) yang bicara soal Punk sebagai ideologi. Menjadi harum lagi seperti makanan yang baru saja dipanaskan, serentak para Punk teriak soal ideologi. Untuk itu, yang kedua: saya harus mengingatkan juga kepada Punkers yang mencontoh aksi-aksi para aktivis. Cara-cara solidaritas aksi dengan mendatangi kantor kepolisian dan kantor-kantor lain sebangsanya, apa pentingnya?

Apa benar ideologi Punk hanya bicara soal kritik, lalu menggantungkan diri pada pemerintah? –jika yah, jelaskan dan katakan saya salah— Bersolidaritaslah untuk para Punk Aceh, tapi sangat kontradiktif jika solidaritas itu diteriakan di depan aparatur pemerintahan, sambil berharap perubahan dari mereka. Ayolah buka kembali kamusnya, apa kalian lupa dengan kalimat: ‘katakan tidak pada pemerintah.’ Atau sepertinya kalian sedang menambah apa yang selama ini ditakutkan oleh Albert Camus: “All modern revolutions have ended in a reinforcement of the power of the State”.

Mari bertanya apa mereka para Punk juga melakukan hal yang sama (aksi-aksi masa) dalam kasus lain. Semoga saja iyah, tapi sepenglihatan saya (kembali ingatkan jika mata saya salah) sedikit dan jarang ada Punkers di nusantara ini yang punya kesadaran solidaritas luas dan bisa ditemukan di aksi-aksi lain. Saya jadi bertanya lagi soal kata-kata kebebasan, anti kemapanan atau anti pemerintah dalam ideologi Punk.

Salutlah untuk beberapa aksi spontan (Direct Action) yang dilakukan teman-teman lain, dengan metode yang tak perlu memelas. Graffiti Action, para Anarko Punk di Rusia jauh lebih jelas pernyataannya. Tanpa harus memelas meminta belas kasihan pada pemerintah, cukup menuliskan “Punk Is Not Crime” di dinding kedutaan besar Indonesia di sana. Atau para Punk yang juga bergerak menyerukan Occupy di beberapa lokasi di dunia saat ini. Kampanye itu jauh lebih riil di mata saya.

Ancaman atas kebebasan, mungkin itu hal besar yang sedang dirasakan oleh sebagian orang atas penetapan syariah Aceh. Khalayak yang ramai dengan akses informasi (internet dan sebangsanya) adalah mereka dari kelas menengah. Saya juga bagian dari kelas menengah yang memuja kebebasan. Tapi, kebebasan macam apa atau jangan-jangan kita sedang berbicara tentang dua makhluk yang kebetulan bernama sama.

Mungkin saya akan menambah pertanyaan “Ada Apa Dengan Punk?” dengan “Ada Apa Dengan Kebebasan?” Akh sudahlah, kadang kelas menengah memang terlalu rewel ketika mainannya terancam diambil.

???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s