Mixtape antara Keisengan dan Literasi

Tumblr_lomqftfgf91qkeifz

Saya ingat mixtape yang pertama kali saya ramu buat seorang ‘kawan dekat’ –ketika itu  tahun 2004— saya merekamnya di kaset kosong bertipe C90. Isinya tak lebih dari kumpulan lagu untuk menyatakan kekaguman atas seseorang. Saya memberikannya sebagai sebuah hadiah ulang tahun kepada “She-Who-Must-Not-Be-Named” (jangan tertawa, jika terdengar seperti Voldemort dalam Harry Potter).

Setelah tahun 2004, saya membuat sekitar empat mixtape. Terakhir saya membuatnya untuk sebuah project bertajuk “Experiment Room Mixtape Project” –project ini masih berlangsung sampai sekarang— Mixtape terakhir saya berjudul “Start The Riot From Your Bed” adalah sekumpulan musik, yang mungkin oleh sebagian orang akan diklasifikasikan sebagai ‘protest song’. Tak jauh dari itu, “Start The Riot From Your Bed” adalah rangkuman atas kepingan-kepingan ide sosio-politik-kultural, yang belakangan sering menyapa pikiran saya.

Berawal dari Pita Kaset

Mixtape pada awal kemunculannya berbentuk kaset audio (tape: pita). Merujuk pada kamus Merriam Webster, mixtape adalah: “a compilation of songs recorded (as onto a cassette tape or a CD) from various sources.”[1] Bagi saya, mixtape adalah project sederhana, walau demikian ini tak se-sederhana menyusun playlist di winamp. Tentunya jika ini pekerjaan ini se-sederhana itu, maka saya tak perlu lagi menuliskan artikel ini di sini.

Dalam sebuah tulisannya, Riksa Afiaty –salah satu kolega saya— mengutip “The Pirate’s of Dilemma” (Tom Moulton): “Mixtape merupakan hasil nyata yang berkembang dalam kultur remix, tersebutlah pada tahun 1972 Tom Moulton seorang DJ berumur 20an, menemukan bahwa crowd dalam sebuah club selalu merasa tidak puas dengan musik yang ada di club kota New York, kemudian dia berpikir untuk melakukan sesuatu yang lebih segar untuk clubnya. Maka, setelah malam itu Tom Moulton mengumpulkan semua koleksi kasetnya, sebuah tape, dan pisau cukur untuk memotong pita-pita dari kaset tersebut dan menyatukannya dengan yang lain.”[2]

Wikipedia mencatat mixtape pernah begitu popular pada era 1980-an, sebagai bagian dari Youth Culture saat itu. Lebih lanjut, Wikipedia juga menjelaskan bahwa mixtape pada mulanya adalah kaset bajakan berisikan delapan track, dijual secara loakan di Amerika.[3]

Dewasa ini metode yang sering dipakai untuk membuat mixtape adalah melalui media cd, one-file-playlist atau-pun mp3 playlist. Sekarang pembuatan mixtape dilengkapi juga dengan file desain artwork sampul serta metadata yang rapi (tak asal buat). Perkembangan arus teknologi, mengantarkan kita pada banjir informasi dan data yang tak lagi bisa dibendung. Hal ini juga yang membuat beberapa orang dengan kecenderungan tertentu (bersifat personal, berbagi pengetahuan dan lain-lain) banyak membagikan mixtapenya via media internet. Ingin mencarinya, silahkan berselancar di mesin pencari, niscaya anda akan menemukan beragam mixtape di sana.[4]

Melihat Mixtape Sebagai Pengetahuan

Mixtape, bisa dilihat sebagai sarana berbagai informasi dan data (literasi). Kita tak bisa lagi melihat musik sekedar sarana hiburan, lebih dari itu musik adalah sarana pengetahuan. Hal ini seperti ketika kita mendengar protest song yang ramai di Indonesia di sekitar tahun 80-90an (Iwan Fals, Doel Soembang, Franky Sahilatua, Gombloh dan lain-lain). Medium itu bolehlah ditandai sebagai salah satu gejolak-gejolak awal kejenuhan atas pemerintahan orde baru.  Hal ini menunjukan musik mampu menggambarkan kondisi sosial-politik-kultural pada era-nya.

Nilai pengetahuan yang sama tentunya berlaku pula secara tekhnis. Dalam sebuah pengantar mixtapenya Anto Arief menyebut:“Penemuan  Rolland TR 808. Drum machine yang paling populer di tahun 70/80an, dan sangat umum digunakan di musik rap, hip hop & R&B pada dekade itu, bahkan hingga kini.” [5] Penemuan alat dan dukungan teknologi diseputarnya mewarnai musik yang diciptakan, eksplorasi alat menghasilkan musik-musik dengan bentuk dan ciri tertentu. Hal ini sama menariknya dengan hal-hal berbau sosio-kultural-politik.

Hal yang tak kalah menarik tentunya melihat zeitgeist pada suatu masa melalui musik mixtape. Kita bisa menandai musik yang populer di masa 90-an, setelah Kurt Cobain meledakan kepalanya dan menitip pesan: “I Hate My Self, I want To Die”. Hal yang sama juga terlihat ketika kultur Do It Yoursef dan selanjutnya cassette culture yang berkembang di inggris lewat skena anarko punk, yang selanjutnya menelurkan nama seperti The Crass, The Curse Of Zounds, The Autumn Poison dan sebangsanya. Atau mungkin kita ingin menandai sebuah masa ketika band-band rock mendapatkan tempatnya di Indonesia, terutama band-band dari Jawa Timur (Surabaya dan sekitarnya). Gejala dan penanda zaman seperti inilah yang membuat saya beranggapan bahwa musik tak lagi sesederhana alat menghibur diri, lebih dari itu adalah sarana pengetahuan.

Hal-hal seperti di atas itulah yang menurut saya menarik untuk dibagi dalam meramu mixtape, sebuah tema tertentu yang mengandung informasi. Bahkan jika tema tersebut bersifat sangat personal sekalipun, mixtape tetaplah menarik. Bukankah menarik mengenal seseorang melalui musik pilihannya. Cobalah lontarkan pertanyaan ini pada beberapa orang: anda akan mendengar lagu apa ketika sedang jatuh cinta? Tentulah kita akan mendapatkan beragam jawaban atasnya.

Selain sebagai sarana pengetahuan, musik telah berubah menjadi medium pencitraan bagi seseorang. Dalam hal-hal bersifat selera pribadi inilah musik (lebih lanjut mixtape) bekerja sebagai serangkaian kode yang bisa menampilkan hasil pencitraan si pendengarnya (dalam kasus mixtape, pembuatnya). Saya mengenal
beberapa sosok kawan saya sebagai penggila metal dan rock cadas, sedikit banyak pengaruh musik itu terbawa juga di keseharian mereka. Semisal cara berpakaian, lagu yang di-genjreng-kan ketika memegang gitar, gaya hidup, tutur kata atau bahkan cara mereka melihat hal-hal bersifat personal seperti cinta. Kasus pencitraan yang sama juga terjadi ketika sebagian besar kita mendefinisikan ‘allay’ –selain cara berpakaian, cara bertutur– dalam hemat saya, sebagaian besar kita mengidentifikasikan kategori ‘allay’ dari musik yang mereka sukai.

Selera pribadi-lah (subjektif) yang membuat posisi mixtape semakin menarik (untuk mendengarkan mixtape seseorang dan membuat mixtape sendiri). Seperti halnya sesuatu yang berbau subjektif, maka prosesnya bisa sangat personal. Kita bisa meletakan hal-hal yang menurut kita ‘baik’ –dan lumrah saja jika mungkin hal tersebut disebut ‘buruk’ oleh orang lain. Tapi tentunya kita tidak sedang menghitam-putihkan dunia dengan definisi baik dan buruk, mari kita menghargai prosesnya dan menilainya sebagai kemajemukan selera. Lebih baik lagi jika melihat perbedaan itu sebagai sarana pertukaran informasi dan data (literasi).

Sama seperti selera kita terhadap kopi. Mungkin anda menyenangi kopi manis, bersama deretan lagu low-beat. Atau mungkin sebaliknya, anda pecinta kopi pahit yang diseruput bersamaan dengan dentuman berat nan keras musik-musik bertegangan tinggi. Saya sendiri bisa memastikan saat minum kopi saya akhir-akhir ini, akan ditemani irama post rock nan-absurd dari Explosion In The Sky dan sederetan musik serupa. Kembali ke soal kopi, meminum kopi bersama kawan adalah hal menyenangkan. Kadang pilihan menu kopi boleh berbeda, tapi bukankah yang menarik dalam prosesi minum kopi adalah ritual perbincangan di seputarnya?

Saya pernah berbincang dengan Gooodit, seniman muda yang juga pegiat web sites http://www.kamengski.net/, dalam perbincangan tersebut dia menyebut bahwa mixtape yang oke itu memberikan sumber pengetahuan baru. “Pernah lihat mixtape yang ok banget, loe googling lagunya aja sulit ketemu, hahaha,” kata Goodit. Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa mixtape bisa saja menjadi sarana pertukaran informasi yang sangat baik.

Mungkin mixtape yang baik adalah dari mereka yang menghabiskan beratus giga byte hard-disk eksternalnya untuk ribuan folder berisi lagu. Atau mungkin milik ‘mereka’ yang punya ratusan koleksi kaset, cd atau vinyl di kamarnya. Seorang music geek, mereka yang gila musik dan mecoba berbagi informasi tentang musik-musik yang didengarnya.

Saya pribadi bersepakat bahwa mendengarkan mixtape dari seseorang yang menggilai musik, pasti akan sangat menarik. Akan tetapi bagi saya, siapapun punya kesempatan untuk membuat mixtape. Selalu menarik untuk mengenal seseorang lewat apa-apa yang mereka sukai, terlebih lagi musik.

Mengutip Nietsche “Without music, life would be a mistake”. Jikalau tak ingin hidupnya menjadi ‘salah’ –maka tiap-tiap kita memilikisoundtrack dalam kehidupan masing-masing. Tak ada rangkaian cerita  soal kehidupan yang sama persis di muka bumi ini, tiap-tiap kita memiliki keunikan dalam hidup. Tertarik membuat mixtape, kenapa tidak memulai dengan berbagi soundtrack dalam hidup anda? Pada titik inilah mixtape adalah sarana yang baik untuk berbagi berbagi ide, informasi, keisengan atau bahkan kegalauan. (***)


[1] http://www.merriam-webster.com/dictionary/mixtape diakses tanggal 10 Juli 2011

[2] “Mencari Keotentikan Lewat Mixtape” oleh Riksa Afiaty http://experimentsroom.tumblr.com/post/6718443572/mencari-keotentikan-lewat-mixtape diakses tanggal 10 Juli 2011

[3] Merujuk pada http://en.wikipedia.org/wiki/Mixtape diakses tanggal 10 Juli 2011

[4] Cobalah tengok beberapa situs berikut: http://www.thebastardsofyoung.com/  —  http://www.kamengski.net/ — http://experimentsroom.tumblr.com/. Di sana anda dapat menemukan beberapa mixtape yang bisa diunduh gratis.

[5] Dikutip dari pengantar mixtape Anto Arief “Groovin’ pt 3: Tribute to 808” – http://thebastardsofyoung.com/home/free-mixtapes-a-albums/anto-arief.html diakses tanggal 10 Juli 2011

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s