Presentasi Musik Bambu Wukir, Semoga Alam-pun Terhibur

Bambu Wukir adalah modifikasi instrumen tradisional (Celempung, Sasando Sitter, lakado)Dari sisi tampilan visual, hal menarik dari bambu wukir adalah bagian kepalanya yang menyerupai bambu runcing. Tampilan yang tentunya mengingatkan orang pada alat perlawanan rakyat di masa kolonial. Boleh jadi si pembuat ingin menceritakan hidupnya yang penuh dengan perjuangan melalui desain tersebut.

Adalah Wukir Suryadi, yang melakukan berbagai eksperimen dengan instrumen dan bunyi—berhasil menemukan Bambu Wukir. Anak muda asal Malang ini mampu menciptakan kualitas suara yang luarbiasa melalui alatnya. Menurut beberapa pengamat kualitas instrumen bambu wukir mampu menyamai bunyi synthesizer, yang biasa kita dengarkan pada musik-musik post-rock asal eropa. Pencapaian luar biasa dari seorang anak negeri ini yang menjadi latar belakang utama untuk mengadakan “Presentasi Musik Bambu Wukir”. iCAN dan Criam bekerjasama untuk mempersembahkan presentasi musik ini.

Presentasi Itu

Saat itu (15/05/2010) jam masih menunjukan pukul 7.00, suasana di ruang galeri iCAN sudah menunjukan antusiasme penikmat musik. Sedianya ruangan ini hanya mampu menampung 200 orang. Tetapi kenyataannya penonton yang hadir melebihi kapasistas ruangan. Untuk mengatasi membludaknya penonton, panitia mencoba mengatasi dengan memasang layar di halaman parkir. Harapannya “Presentasi Musik Bambu Wukir” bisa dinikmati secara langsung, tanpa harus berdesakan di dalam ruangan. Terbukti kelak layar ini cukup membantu, setidaknya tidak ada penonton yang tewas akibat berdesakan seperti konser band mainstream (berlebihan yah, hehehe).

Tanpa banyak basa-basi setelah MC Digie Sigiet membuka acara, Wukir Suryadi langsung mempresentasikan musiknya dengan dua komposisi berturut-turut. Sebuah komposisi pembukaan yang sempurna, beberapa kali mengundang tepukan apresiasi dari penonton. Setelahnya berturut-turut Wukir melakukan kolaborasi dengan Jogja Hip-Hop Foundation, Gaung dan Kang Parlo, The Jacket, Restiadi, Rood Cooper,  Blokade dan Gendis Gula Jawa.

Kolaborasi antara Wukir bersama Gaung dan Kang Parlo merupakan komposisi yang paling sering mengundang tepukan penonton. Beat perkusi bisa melambat dan tiba-tiba naik secara perlahan, ditambah dengan ‘misteri bunyi’ dari Bambu Wukir. Hal itu mampu memberi warna tersendiri pada kolaborasi mereka. Penonton seolah di bawah ke dalam pertunjukan musik etnik yang megah.

Sekilas saya mencuri dengar komentar penonton yang duduk cukup berdekatan dengan saya, “Wukir mainnya benar-benar menyayat hati”. Komentar ini seiring dengan penampilan kolaborasi Wukir dan Restiadi. Perpaduan bunyi antara Bambu Wukir dan Violin dari Restiadi, sangatlah memukau. Mendengar kolaborasi ini, kita pun dibawa bertamasya ke gedung opera. Musik yang mereka hasilkan begitu megah, dan mungkin benar kata penonton tadi: menyayat hati.

Penampilan Wukir bersama Jogja Hip-Hop Foundation, The Jacket dan Blokade mampu memberikan khasanah lain dalam pertunjukan malam itu. Bambu Wukir berhasil menunjukan bahwa dia mampu dimainkan bersama dengan musik modern. Mampu mengiringi beat dan ‘tarian kata’ ala Hip-Hop. Mampu mengimbangi ritme penuh semangat Blokade (Hard Core). Serta mampu memberi warna lain dalam semangat Punk The Jacket.

Penampilan Wukir bersama musisi Rod Cooper (Australia) juga sangat menarik. Rod yang juga menemukan alat musik baru, menyajikan musik eksperimental yang sangat baik. Alat musik Rod yang terbuat dari pipa steinles, berfungsi sebagai pengatur tempo pada kolaborasinya dengan wukir. Sementara Bambu Wukir bisa menjadi alat yag luar biasa dalam sebuah kolaborasi eksperimental seperti ini.

Kolaborasi terakhir adalah kolaborasi antara Wukir, Rod, Restiadi dan Gendis Gula Jawa. Sebuah komposisi eksperimental yang sangat luar biasa. Sekilas mengingatkan saya pada warna post-rock, yang sarat eksperimen bunyi. Lengkingan suara Gendis Gula Jawa, gesekan biola Restiadi, musik eksperimen dari wukir dan Rod menghasilkan sound yang gelap dengan ketukan-ketukan tak terduga, seperti halnya pada musik-musik eksperimental sejenis lainnya.

Disela-sela pertunjukan ada testimonial yang disampaikan oleh Miko Jatmiko dan Hery Macan. “Teruskanlah berani salahmu, karena itu baik”, pesan Miko Jatmiko, seniman yang belum lama ini menggelar pameran tunggalnya yang bertajuk “Beautifull Accident”. Hery Macan sebagai pengamat musik juga memberikan komentarnya “dari pertunjukan ke pertunjukan saya mengikuti Wukir dan dari hari-ke-hari dia nampak menyatu dengan alat dan musiknya”.

Malam itu ditutup dengan dua komposisi dari Wukir, yang diiringi oleh tepukan riuh dari penonton. Nampak wajah-wajah puas dari penonton sesudah menyaksikan “Presentasi Musik Bambu Wukir”. Malam yang sempurna dengan pertunjukan yang sederhana namun memikat dan sulit dilupakan.

Indahnya malam itu tak ada hujan yang turun. Padahal beberapa hari sebelum acara, hujan selalu menjadi tamu penting di Jogja. Tapi malam itu hujan tak turun, alampun memberi kesempatan kepada Wukir untuk mempresentasikan karyanya. Semoga alam juga terhibur malam itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s