Karya Sederhana dari Mereka yang Sederhana

Secara tidak sadar (baca: laten) kita sering menyepelekan mereka yang berkebutuhan khusus. Mungkin anggapan seperti itu akan terbantahkan ketika melihat hasil workshop fotografi yang dilakukan oleh teman-teman Kl!k18 (Komunitas Lensa Ilmu Komunikasi – Universitas Islam Indonesia) di SLB Marsudi Putra II Pandak-Bantul.

Workshop ini menjadi bagian dari rangkaian acara #berbagi dengan teman-teman SLB Marsudi Putra II Pandak-Bantul. #berbagi ini diprakarsai oleh beberapa orang dari berbagai kota, dikelola dan bergerak secara simultan lewat dunia jejaring sosial (Twitter).

Pada workshop yang berlangsung 11-13 April 2011, teman-teman kl!k 18 memperkenalkan dunia fotografi pada Anak Berkebutuhan Khusus (selanjutnya ABK). Dengan jam belajar 2 jam/hari, workshop ini mampu menumbuhkan semangat berkarya dan besenang-senang pada ABK di SLB Marsudi Putra II Pandak-Bantul. Diikuti oleh 15 ABK, workshop ini juga disambut dengan baik oleh guru dan orang tua siswa SLB Marsudi Putra II Pandak-Bantul.

Hasil-hasil gambar workshop ini dibuat dalam bentuk kartu pos (postcard). Pada tanggal 17 April 2011 ketika acara #berbagi—juga akan diadakan pameran sederhana hasil dari workshop ini. Kartu pos (postcard) juga dijual kepada umum, untuk membantu SLB Marsudi Putra II Bantul. Sekolah ini memang membutuhkan bantuan dan perhatian (seperti halnya SLB-SLB lain di Indonesia). Mayoritas dari mereka yang bersekolah di SLB Marsudi Putra II Pandak-Bantul berasal dari keluarga kuranng mampu. Beberapa di antaranya bahkan anak yatim piatu, anak-anak terlantar dan lain-lain. Untuk itu sekolah ini juga memiliki sebuah panti asuhan untuk menampung ABK yatim piatu dan terlantar.

Workshop dan Karya

Melalui Workshop ini diperkenalkan cara penggunaan kamera serta pengetahuan tentang fotografi dasar, mengunakan kamera pocket. Selama dua hari pertama, para peserta dibebaskan untuk memotret segala aktivitas sekolah. Mulai dari kegiatan belajar sampai bermain hingga memotret para siswa dan staf pengajar SLB Marsudi Putra II Pandak-Bantul.

Pada hari ketiga para peserta diajak berinteraksi dengan lingkungan di sekitar sekolah. Kebetulan sekolah mereka dekat dengan kehidupan para petani dan musim panen datang bertepatan dengan workshop. Jadilah mereka memotret sawah, aktivitas para petani, suasana panen dan lain-lain. Tak jauh juga dari sekolah mereka ada sebuah pasar tradisonal, mereka juga merekam aktivitas pasar tradional tersebut pada hari ke tiga.

Hasilnya sangat menggembirakan, apalagi jika kita menganggap bahwa fotografi adalah cara seseorang memandang dunia—hasil workshop ini, mampu menguatkan argument tersebut. Dalam waktu singkat para peserta workshop mulai memahami fotografi. Dan jauh lebih penting dari itu, mereka menemukan kecerian dan kegembiraan dalam fotografi.

Selama tiga hari saya juga terlibat pada workshop ini. Saya terpesona dengan daya tangkap mereka. Setidaknya itu meruntuhkan juga kalimat awal pada tulisan ini—saya yakin teman-teman kl!k18 juga merasakan hal yang sama.

Beberapa karya juga cukup menarik untuk dicatat. Saya pribadi mencatat karya dua anak autisme. Yang pertama adalah Heri, saya menemukan caranya yang unik dalam menangkap ekspresi wajah teman-temannya yang hampir selalu tepat. Meski demikian dia tidak pernah mengambil gambar penuh (full face) dari ekspresi teman-temannya itu. Dia selalu memotong di tengah atau memilih frame dengan memotong bagian tertentu dari wajah temannya. Hal ini, menjadikan fotonya unik, meski mungkin tidak akan masuk dalam kategori bagus oleh para juragan dan suhu fotografer di Facebook.

Pada hari ketiga Heri bahkan dengan sesuka hati memotret orang-orang, tanpa menyertakan bagian kepala dari objek-objek fotonya itu. Walhasil dia mendapatkan stock foto dari bahu ke bawah—semua tanpa ‘kepala’. Interaksi saya dengan anak autis menunjukan bahwa mereka mengalami kesulitan fokus jika melihat di sekitar wajah lawan bicaranya. Hal-hal seperti ini cukup menarik untuk diikuti, atau mungkin dianalisa lebih lanjut.

Begitu pula dengan Alin, yang juga menyandang autisme sekaligus tunarunggu. Anak ini sangat aktif di kesehariannya dan memiliki ketertarikan pada barang-barang baru. Selama workshop saya memperhatikan fotonya yang hampir selalu ngeblur, dan memang sepertinya dia memilih untuk seperti itu. Dengan gaya seperti ini—entah secara langsung atau tidak—saya merasa beberapa hasil fotonya seperti hasil-hasil kamera toycam dan itu menyenangkan.

Saya juga tertarik pada hasil foto Lia (tunarunggu). Setidaknya saya suka, sebab pada hari pertama dia sudah cukup mampu menempatkan komposisi gambar dan beberapa hal-hal dasar fotografi. Pilihannya pada object juga bagus—saya selalu tertarik dengan pilihan object fotonya.

Secara keseluruhan foto-foto ini adalah foto-foto sederhana dari mereka yang juga sederhana. Terkadang saya merasa dunia seni dibuat ‘terkesan’ rumit oleh mereka yang merasa memiliki kuasa atasnya. Jika semuanya sederhana maka seni akan sangat cair seperti air. Sifatnya yang cair, menjadikan seni selalu membuka ruang bagi siapapun untuk berkarya, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus.

*) Keterangan foto kiri-kanan: 1. Bermain – Alia Sulastri (Lia); 2. Tampak depan kartu pos; 3. Edy Momo – Mursalin (Alin); 4. Tertawa – M. Heri Kuswanto (Heri)

*) lebih lengkap kunjungi: experimentsroom.tumblr.com

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s