Saya Beriklan Maka Saya Ada

Siang itu sangat menyengat, kendaraan bertumpuk di simpang empat Dr. Wahidin Yogyakarta. Di sudut simpang empat, baliho dengan warna merah putih coba membangkitkan semangat nasionalisme orang yang melihatnya. Ukurannya yang besar memuat sosok di gambar itu terlihat gagah, ditambah dengan barisan kata: “Hidup adalah perbuatan”. Sosok itu adalah Soetrisno Bahir, ketua umum Partai Amanat Nasional.

Ada tiga baliho (kurang lebih sama) yang ‘bertabrakan’ dengan mata penulis pada hari ini. Dengan pesan yang sama pula, semuanya mengambil tema kebangkitan Nasional. Baliho pertama dijumpai di Selokan UGM, di kawasan ruko depan kampus pertanian UGM. Beberapa saat setelahnya kembali terlihat sosok yang sama di Jalan Raya Solo-Jogja, depan gerbang masuk Bandara Adi Sutjipto.

Tak tahu persis ada berapa Baliho Soetrisno Bahir ini terpasang d Jogjakarta. Tapi tiga tempat itu saja sudah sangat strategis, karena merupakan sentral keramaian. Jalan raya Solo adalah jalur transportasi utama yang menghubungkan Jogja-Solo. Selokan UGM, strategis karena tempatnya para intelektual muda beraktivitas. Jalan Dr. Wahidin tak jauh dari kawasan pertokoan di jalan Soedirman. Hemat saya sudah banyak orang yang menyaksikan baliho tersebut.

Masa kampanye pemilu belum lagi dimulai, tapi iklan-iklan dengan tema layanan masyarakat sangat banyak bertebaran. Iklan-iklan ini umumnya memuat pesan-pesan beberapa tokoh nasional. Kayaknya semakin dekat pemilu, semakin baik untuk memulai tebar pesona menaikan pamor dan popularitas partai atau tokoh tertentu.

Iklan Baliho Soetrisno Bahir bukan satu-satunya bentuk iklan yang dipilih. Di beberapa stasiun televisi—pada prime time—iklan dengan tema yang sama sering menghiasi layar kaca. Ada Soetrisno Bahir yang bergandengan dengan anak-anak berbicara soal pendidikan. Bahkan Sang Istri pun ikut hadir di Iklan tersebut. Belum lagi Iklan yang dimuat di salah satu surat kabar terbesar Indonesia. Iklan cetak ini bahkan menyewa se-halaman penuh dari surat kabar tersebut. Temanya sama, pesan Soetrisno tentang kebangkitan nasional.

Dana yang dikeluarkan tentunya tak sedikit. Iklan di surat kabar tersebut dengan ukuran 1 halaman penuh bisa mencapai 400an juta rupiah. Sampai saat ini penulis sudah melihat dua kali iklan ini dimuat di surat kabar tersebut. Belum lagi iklan di prime time acara televisi. Tentunya bukan angka kecil yang kan terbilang, mengingat jumlah pasang mata yang terhipnotis pada prime time tersebut. Bahkan iklan tersebut tidak hanya ada di satu stasiun televisi saja.

Soetrisno Bahir bukan satu-satunya politikus yang mulai promosi diri. Prabowo Soebiyanto juga muncul berkali-kali di layar kaca. Dengan gaya berwibawa khas militer, mantan Panglima Kopasus ini menyerukan kepada rakyat Indonesia untuk membeli pangan produksi petani Indonesia. Isunya memang tak berdekatan dengan politik. Tapi sedikit banyak himbauan-himbauan melalui Iklan tersebut akan membawa dampak pada popularitas tokoh yang sempat mengikuti konvensi partai GOLKAR sebelum pilpres 2004 ini.

Ada lagi Wiranto yang beriklan dengan cara mengadakan sayembara esai nasional. Sayembara ini bertema Wiranto Mendengar Aspirasi Rakyat. Isu yang diangkat adalah persolan kemiskinan. Iklan ini muncul dengan sebaran pamphlet, serta iklan televisi (media cetak penulis belum melihat). Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat ini, nampakannya mulai mencoba mendongkrak popularitasnya. Nampaknya dia belajar dari Pilpres 2004, yang berakhir dengan kekalahan baginya yang saat itu diusung Partai Golkar, selaku pemenang pemilu. Mau tak mau, dia harus menggenjot popularitasnya, jika memiliki hasrat untuk mengikuti pentas pilpres 2009.

Jika dilihat tokoh-tokoh yang ramai berpromosi diri ini, adalah tokoh-tokoh yang selama ini berada di lini ke dua. Popularitas mereka dalam berbagai survey, masih jauh tertinggal dengan tokoh-tokoh nasional ‘kelas satu’ (SBY, Kalla, Mega, Gus Dur atau Amien Rais). Iklan layanan masyarakat dengan sedikit ‘mencuri’ start ini memang harus dilakukan jika mereka ingin mendongkrak popularitas.

Akan tetapi hampir Semua tokoh menolak jika iklan-iklan layanan tersebut dikaitkan degan pemilu atau pilpres 2009 (Tempo, 12-18 Mei 2008). Selain iklan-iklan dalam skala besar tersebut. Berbagai partai juga terlihat harus berpintar-pintar untuk mencuri perhatian sebelum masa kampaye dimulai.

Belum lama ini penulis juga mendapatkan selembar kupon peringatan milad ke 10 Partai Keadilan Sejahtera. Kupon ini selain memuat informasi agenda parade seni budaya (di alun-alun Jogjakarta), juga berfungsi sebagai kupon undian. Sepeda motor, TV berwarna, Sepeda, Lemari Es, Kompor Gas, Hand phone dan berbagai barang lain dijanjikan sebagai hadiah.

Hal yang sama juga terlihat dilakukan oleh Partai Demokrat DIY. Sebuah spanduk belum lama ini juga sempat menarik perhatian penulis: puluhan (atau bahkan ratusan) hadiah menarik dijanjikan Partai Demokrat DIY, bila ikut memperingati hari ulang tahunnya.

Semua tokoh atau partai tersebut di atas ada dalam skala nasional. Menurut hemat penulis Jogjakarta bukan satu-satunya tempat tarung iklan dilakukan. Kota-kota lain (utamanya kota-kota besar) tentu merupakan sasaran guna menaikan popularitas menjelang pemilu 2009.

Persandingan iklan dan politik ini adalah fenomena wajar ketika Industri media berkembang pesat. Siapa yang mampu (secara ekonomi), berkeinginan dan selama tidak menyalahi aturan, dalam tinjauan sisi ekonomis media hal tersebut akan ditampung. Sejauh ini memang iklan-iklan dengan nuansa kampanye masih tidak menyalahi kaidah. Iklan-iklan tersebut masih mengambil tema layanan masyarakat. Kecuali jika itu dianggap sebagai kampanye terselubung. Menarik untuk ditunggu apalagi yang bakal dijual oleh para elite dan partai menjelang pemilu 2009.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s